Kekasih
Betapa sedu sendu bayangan tubuhku
tanpa hadirnya bayangan dirimu; jarumjarum gerimis
berdesak miris mengiris kalbu. Pada dadaku
telah terbaring hamparan kerinduan berjumpa
dirimu; membuka pintu asmaradhana selalu
menyibukkan segala rasa, aku hanya ingin
menemuimu untuk melepas kata cinta padamu jua.
Kehidupan tercipta serupa kembara cinta. Semesta
bercinta maka kehidupan menghirup napas ada untuk tiada. Waktu
yang berpesta telah mempertemukan diriku dengan dirimu; serupa
Adam Hawa terusir dari taman tanpa dahaga dan bertemu
atas kuasa rindu akan cinta yang membara.
Kekasih, cabut renggut jantungku, ada asmara
yang berdetak memujamu, ketahuilah kasih, rahasia
kelahiran dan kematianku adalah mencintai-Mu.
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 Agustus 2010
Sabtu, 31 Juli 2010
Doa
Doa
Berikanlah suaramu
untuk subuh yang membuka kelopak Brahma.
Kabut biru pucat masih berbaris sederhana
menenun benangbenang yang merekatkan bulu mataku
dan lentik tatapanmu. Bukalah sepasang kidungku
yang telah disampaikan Hermes sang malaikat altar Olympia.
Cintaku padamu masih terjaga segala rumpun bahasa, mendekatlah
tubuhmu yang maya fana, kita berdua berkasihkasih di atas permadani kamboja untuk nyata.
Rosario
memintal air mata rindu memuaskan cintaku
pada setiap teguk takbir menyebut namamu dengan bersahaja.
Derap langkahku semakin menua renta, jarum arloji
serpih lirih memahat pusar semesta menjadi tiada.
Zat yang abadi
masih setia membaptis matahari dan rembulan
untuk kita menjadi selalu ada menyebut larik tubuhnya.
Berikanlah suaramu
untuk subuh yang membuka kelopak Brahma.
Kabut biru pucat masih berbaris sederhana
menenun benangbenang yang merekatkan bulu mataku
dan lentik tatapanmu. Bukalah sepasang kidungku
yang telah disampaikan Hermes sang malaikat altar Olympia.
Cintaku padamu masih terjaga segala rumpun bahasa, mendekatlah
tubuhmu yang maya fana, kita berdua berkasihkasih di atas permadani kamboja untuk nyata.
Rosario
memintal air mata rindu memuaskan cintaku
pada setiap teguk takbir menyebut namamu dengan bersahaja.
Derap langkahku semakin menua renta, jarum arloji
serpih lirih memahat pusar semesta menjadi tiada.
Zat yang abadi
masih setia membaptis matahari dan rembulan
untuk kita menjadi selalu ada menyebut larik tubuhnya.
Sabtu, 10 Juli 2010
Ode Untuk Bumi
Ode Untuk Bumi
1.
Waktu
terlampau deras mengalir
mengecap detik rintik arloji
tak bertepi. Seketika di kota
lilinlilin masih setia bersandar
pada relung sarang gundah pecah menyekap senyap sepi.
Burungburung yang berlainlainan cermin
berlari lalu bertemu menempa merajut
sepotong cinta, lalu tubuh
melabuhkan seloka merebut
mimpimimpi yang tak pasti.
Pada hening bening tanah terjanji
cinta telah diarcakan pada pembuluh nadi,
hanya cinta setelanjang bumi yang padat
akan terkunci rapat erat pada palung ranjang hati.
2.
Musimmusim tercekik
lalu membisu melepas rintih ringkih
perawan pertiwi sekelebat kilat
permintaan rimba daun dan kayu
yang telah tersampaikan kepada
titik rintik abu debu; padang lapang
kerontang menunggu di depan pintu.
Untuk mata tuhan yang terakhir di puingpuing
jaman perkampungan batu, panjipanji
sepasang eden berpatahan lepas bebas
mencari tempat beradu melahirkan
telurtelur natal yang membasuh air mata.
Angin pun datang membawa pesan majelis tuhan
yang tak sempat tersampaikan;
bumi masih setia mempersiapkan liang pencar senyapnya,
bercintacintalah dengan berjabat erat memeluk kerinduan
yang membuat kita selalu berada.
1.
Waktu
terlampau deras mengalir
mengecap detik rintik arloji
tak bertepi. Seketika di kota
lilinlilin masih setia bersandar
pada relung sarang gundah pecah menyekap senyap sepi.
Burungburung yang berlainlainan cermin
berlari lalu bertemu menempa merajut
sepotong cinta, lalu tubuh
melabuhkan seloka merebut
mimpimimpi yang tak pasti.
Pada hening bening tanah terjanji
cinta telah diarcakan pada pembuluh nadi,
hanya cinta setelanjang bumi yang padat
akan terkunci rapat erat pada palung ranjang hati.
2.
Musimmusim tercekik
lalu membisu melepas rintih ringkih
perawan pertiwi sekelebat kilat
permintaan rimba daun dan kayu
yang telah tersampaikan kepada
titik rintik abu debu; padang lapang
kerontang menunggu di depan pintu.
Untuk mata tuhan yang terakhir di puingpuing
jaman perkampungan batu, panjipanji
sepasang eden berpatahan lepas bebas
mencari tempat beradu melahirkan
telurtelur natal yang membasuh air mata.
Angin pun datang membawa pesan majelis tuhan
yang tak sempat tersampaikan;
bumi masih setia mempersiapkan liang pencar senyapnya,
bercintacintalah dengan berjabat erat memeluk kerinduan
yang membuat kita selalu berada.
Label:
cinta,
Ode untuk bumi,
puisi bumi,
tuhan
Langganan:
Postingan (Atom)